La Luna, Film Malaysia Yang Coba Mengangkat Isu Feminisme

Yofamedia.com, Jakarta - Akhir tahun ini kalian akan disuguhkan oleh sebuah film yang bertema isu-isu sosial dunia modern yang disampaikan lewat cara yang asik sembari menyindir serta memberikan tamparan kepada orang-orang yang berlindung di balik agama ketika memanjakan ego mereka untuk membatasi hak-hak orang lain. Ya, premis tersebut bisa dikatakan berani dan coba diangkat oleh sineas Malaysia Raihan Halim dalam sebuah film yang bertajuk La Luna.

Film La Luna berkisah tentang La Luna, sebuah toko pakaian dalam wanita (lingerie) yang baru dibuka di Kampung bernama Bras Basah. Kampung ini dipimpin oleh Tok Hasan (Wan Hanafi Su), seorang tetua yang konservatif dan taat agama. Kehadiran La Luna, yang dimiliki oleh Cik Hanie (Sharifah Amani), pun menimbulkan konflik di antara warga kampung.

Meskipun awalnya sebagian warga merasa risih dengan model pakaian dalam yang dijual di La Luna, beberapa di antaranya mulai menerima perubahan tersebut. Bahkan, para wanita yang antusias berbelanja di toko tersebut mendapat dukungan diam-diam dari suami mereka.

Tok Hasan lalu berusaha menghentikan dukungan terhadap La Luna dengan berbagai cara, termasuk memberikan ceramah di surau dan menggunakan argumen agama. Namun, konflik antara Tok Hasan dan pemilik La Luna malah mengungkap fakta mengejutkan yang tidak pernah terduga sebelumnya. Fakta apakah itu?

Seperti yang sudah disinggung di atas, film ini mengangkat isu sensitif namun dituturkan dengan gaya bercerita yang jenaka penuh canda tawa. Penuh dengan kritik menyentil tentunya, serta berani menyuarakan keresahan yang nyata adanya. Sebuah pengalaman sinema yang menyenangkan dan tidak mudah terlupakan begitu saja.

Selaku sutradara, Raihan Halim pun tidak ingin menggurui, namun sebaliknya, menyorot hal penting tentang bahayanya bila agama digunakan sebagai alat oleh seorang petinggi untuk berkuasa dengan semau hatinya tanpa memikirkan kepentingan warga di wilayahnya tersebut.

Tema yang berat dan sensitif tadi pun berhasil dengan mulus disajikan oleh Raihan Halim dengan ringan. Pesan agama, feminisme, dan keluarga, disampaikan dengan rapi tanpa harus mengorbankan unsur fun-nya. Sobat nonton dijamin akan dibuat terpingkal-pingkal di banyak bagiannya.

La Luna juga dipastikan akan menjadi film yang tak lekang oleh waktu, mengingat di tahun 2023 ini saja masih banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga dan penindasan terhadap kaum perempuan. Apalagi jika berbicara soal agama yang dijual untuk menahan kemajuan pola pikir. Film yang cocok ditonton di negara mana pun yang masih dimabuk agama.

Dan secara keseluruhan, La Luna bisa dikatakan sebagai sebuah film yang berdakwah tanpa menitahkan, sensual tanpa erotisme, dan memperjuangkan kesetaraan tanpa berat sebelah. Salah satu film terpenting di tahun ini. [Red]



0/Comments = 0 Text / Comments not = 0 Text

Lebih baru Lebih lama
YofaMedia - Your Favourite Media
Ads2