Yofamedia.com, Jakarta - Dr. Timothy Astandu menjadi orang pertama yang berhasil menggunakan paspor Indonesia untuk secara tuntas menjelajahi 197 negara dan wilayah di dunia. Meskipun begitu, sebagai seorang peneliti, ia juga memanfaatkan kesempatan ini untuk melakukan studi perilaku manusia terluas yang pernah dilakukan oleh seorang peneliti Indonesia. Tak hanya itu, Dr. Timothy juga mengaplikasikan berbagai temuannya untuk mengembangkan Populix.
Dari 197 negara yang dikunjungi, 193 adalah negara anggota resmi PBB, 2 adalah negara pengamat PBB (Vatikan dan Palestina), dan 2 lainnya adalah wilayah dengan pengakuan terbatas yang kerap menjadi titik sensitif dalam peta geopolitik global: Taiwan dan Kosovo. Pencapaian ini diakui oleh tiga organisasi perjalanan internasional paling bergengsi di dunia, yaitu Travelers' Century Club (TCC), NomadMania, dan Most Traveled People (MTP), yang masing-masing menggunakan standar verifikasi ketat. Tidak ada satu pun yang dilewatkannya.
Menurut Dr. Timothy, setiap percakapan dengan penduduk lokal merupakan data yang menarik. Setiap pasar yang dimasuki menjadi arena observasi lapangan. Setiap kebiasaan konsumsi, dari negara yang sedang konflik sampai negara terkaya di dunia, dapat disimpulkan menjadi insight yang tidak bisa diperoleh dari mana pun, selain hadir secara langsung.
Dr. Timothy juga menekankan bahwa kadangkala yang kita lihat dan persepsikan dari layar gawai tidak selalu sama dengan kenyataan di lapangan. Misalnya, masyarakat Irak yang menjadi korban konflik geopolitik selama bertahun-tahun, nyatanya masih memiliki dan mempertahankan budaya keramah-tamahan yang luar biasa.
"Hal ini berbeda jauh dengan asumsi saya. Orang Irak benar-benar ramah. Memperlakukan semua orang layaknya tamu mereka sendiri. Bahkan, di beberapa kesempatan mereka mengajak saya untuk makan di rumahnya."
Dr. Timothy juga menyebutkan bahwa negara-negara Afrika yang tengah berkonflik adalah contoh lain yang sering kali mengejutkan para pelancongnya. Somalia dan Yaman, dua nama yang kerap muncul dalam berita perang, ternyata punya mal dan taman hiburan dengan roller coaster yang berdiri utuh dan masih beroperasi. Bahkan masih ada orang yang duduk santai di pantai pada malam hari.
"Bagi seorang peneliti, ini bukan anekdot. Ini adalah pelajaran metodologi yang paling mendasar. Jangan percaya pada asumsi sebelum melakukan verifikasi lapangan."
Pengamatan Dr. Timothy tak berhenti pada stereotipe negara. Ia juga menemukan pola yang konsisten lintas budaya dan tingkat ekonomi; tingkat kekayaan tidak selalu berkorelasi dengan kebahagiaan.
"Tidak berarti negara yang ekonominya lebih maju itu lebih bahagia. Bahkan kadang negara-negara yang sering dipandang sebelah mata, masyarakatnya terlihat lebih bahagia. Peningkatan ekonomi itu bagus, namun faktor penentu kebahagiaan tidak hanya dipengaruhi oleh itu saja. Persepsi bahwa semakin kaya pasti semakin bahagia, agaknya sulit dibuktikan. Karena kesederhanaan hidup mereka nampaknya memberikan kebahagiaan yang lebih."
Bagi Populix, temuan ini adalah pengingat bahwa tingkat ekonomi tidak pernah cukup untuk memahami perilaku dan motivasi konsumen yang sesungguhnya.
Perjalanan Dr. Timothy tidak pernah terpisah dari pekerjaannya membangun Populix, perusahaan konsultasi berbasis riset yang ia besut bersama dua rekannya 2018 silam. Semangat menjelajah dan Populix lahir dari sumber yang sama, yaitu rasa ingin tahu terhadap manusia.
Nama Populix sendiri diambil dari bahasa Latin “vox populi”, yang secara harfiah berarti suara rakyat dan dapat diartikan sebagai opini atau pandangan yang dianut oleh sebagian besar masyarakat. Populix didirikan dengan tujuan untuk “Mendemokratisasi Data”, yaitu memberikan akses data yang dapat dijangkau oleh semua orang.
Dukungan ini diwujudkan melalui PopSurvey, platform swa-survei yang dapat digunakan oleh semua orang, termasuk kalangan akademisi. Melalui platform ini, para pengguna dapat menyusun kuesioner, menentukan detail responden, menyebarkannya kepada lebih dari 1,3 juta responden berkualitas dari Populix, dan menerima hasil kuesioner dengan cepat dan akurat.
Tak hanya itu, setiap negara yang ia kunjungi memperkuat keyakinannya bahwa riset yang baik harus datang dari banyak sumber kebenaran. Karenanya, Populix menghadirkan layanan penelitian kuantitatif, kualitatif, dan yang terbaru, AskLumia, platform riset yang hadir dengan bantuan kecerdasan buatan (AI).
Melalui AskLumia, para pengguna dapat melakukan pengetesan berbagai hipotesis secara cepat dengan bantuan responden sintetis. Hasil laporan yang didapatkan selanjutnya dapat diverifikasi lebih lanjut dengan penelitian lanjutan, baik melalui metode kuantitatif maupun kualitatif.
"AskLumia adalah versi ringkas dari apa yang saya lakukan selama bertahun-tahun: memahami manusia dari berbagai penjuru dunia, dengan cepat, tanpa hadir secara langsung." [Lia]


Posting Komentar