Monster Pabrik Rambut, Sebuah Kritik Terhadap Kapitalisme Lewat Film Horor

Yofamedia.com, Jakarta - Sutradara Edwin kembali menggebrak industri perfilman tanah air melalui karya terbarunya bertajuk Monster Pabrik Rambut. Bukan sekadar sajian horor biasa, film ini dirancang sebagai medium kritik tajam terhadap sistem kapitalisme yang dinilai kian tidak manusiawi.

‎Dalam pertemuan di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, Senin (1/6), Edwin mengungkapkan bahwa film ini mengajak publik untuk menginvestigasi kembali tatanan sosial saat ini. Ia mengibaratkan sistem yang ada seperti mesin yang perlu diperiksa kelayakannya.

‎"Saya rasa perlu kita sekali-kali mempertanyakan kembali mengenai apakah suku cadangnya perlu diganti, apakah oli-olinya perlu dibersihkan, bahkan kalau perlu direvolusi atau dibentuk ulang lagi," ujar Edwin.

Edwin secara gamblang membenarkan bahwa sosok monster dalam film ini merupakan personifikasi dari kapitalisme jahat. Menurutnya, monster tersebut adalah bentuk yang perlu dikritisi karena telah menciptakan normalisasi terhadap eksploitasi, baik oleh mereka yang memberi perintah maupun yang menjalankan.

‎Ia menyoroti kondisi kerja modern yang sering kali melampaui batas kemanusiaan, seperti budaya lembur yang dipaksakan hingga tuntutan untuk tetap responsif terhadap pekerjaan meski jam operasional telah berakhir.

‎Melalui Monster Pabrik Rambut, Edwin ingin penonton menyadari bahwa kebiasaan-kebiasaan tersebut adalah dampak nyata dari "monster" yang mereka hidupi bersama.

‎Demi menghadirkan tekanan emosional yang jujur, Edwin memilih pendekatan teknis yang unik dengan meminimalisasi penggunaan Computer-Generated Imagery (CGI). Sekitar 80% hingga 90% elemen visual dalam film ini dibuat secara fisik menggunakan efek praktikal.

‎"Bagi kami film itu sensory; bisa dipegang, dilihat, didengar, bahkan ada baunya," jelas Edwin.

‎Penggunaan properti nyata seperti miniatur, darah buatan, hingga detail rambut monster bertujuan agar para aktor dapat memberikan respons emosional yang lebih otentik.

‎Iqbaal Ramadhan, yang menjabat sebagai produser eksekutif sekaligus memerankan karakter Bona, mengakui tantangan besar dari metode ini. Menurutnya, efek praktikal menuntut kehadiran penuh dari seorang aktor tanpa ada ruang untuk berpura-pura.

‎"Tubuh kami harus merespons tentang apa yang terjadi di depan mata kami. Tidak ada layar hijau (green screen), semuanya nyata," tegas Iqbaal.

‎Meskipun sarat dengan pesan ideologis dan kritik sosial, Edwin memastikan bahwa Monster Pabrik Rambut tetap dikemas sebagai tontonan horor yang menghibur dan berani bagi industri perfilman Indonesia. [Red]

0/Comments = 0 Text / Comments not = 0 Text

Lebih baru Lebih lama
YofaMedia - Your Favourite Media
Ads2