Film Ikatan Darah Angkat Pencak Silat dan Realitas Sosial lewat Aksi Intens

Yofamedia.com, Jakarta - Film ‘Ikatan Darah' hadir membawa pendekatan baru dalam genre action dengan memadukan budaya lokal dan realitas sosial. Film ini menonjolkan pencak silat sebagai identitas sekaligus kekuatan utama dalam membangun cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

‎Sang Produser, Iko Uwais menegaskan bahwa film ini menjadi medium untuk memperkenalkan kembali budaya bela diri Indonesia ke publik luas. Ia melihat film sebagai cara efektif untuk menyampaikan nilai budaya sekaligus hiburan yang relevan.

‎“Mudah-mudahan semuanya suka filmnya dan relate sama kehidupan sehari-hari, memang ini apa yang mau disampaikan. Ini dari budaya yang saya mau sebarkan dan agenda saya pribadi, bermula dari atlet pencak silat,” ujar Iko dalam konferensi pers film ‘Ikatan Darah’ di XXI Epicentrum, Jakarta, Rabu 22 April 2026.

‎Ia juga menyebut perjalanan kariernya dari atlet hingga aktor membentuk misinya dalam mengangkat pencak silat. Ia menilai kolaborasi para pemain dengan latar berbeda memperkuat dinamika pertarungan dalam film tersebut.

‎Menurutnya, pencak silat memiliki kekayaan gerakan yang berbeda di setiap daerah dan perguruan. Hal itu menjadikannya unik serta mampu beradaptasi dengan berbagai gaya aksi modern dalam film.

‎“Saya mau perkenalkan di negara saya sendiri pencak silat. Alhamdulillah mungkin teman-teman bisa lihat, tadi di Ikatan Darah ini tidak hanya pencak silat saja tapi ada yang lainnya,” katanya.

‎Sementara itu, produser Ryan Santoso mengungkapkan proses produksi film ini penuh tantangan dan perdebatan kreatif. Semua itu dilakukan demi mencapai visi artistik yang diinginkan sutradara secara maksimal.

‎“Pastinya momen yang sangat membanggakan bagi kita semua, banyak kerja keras, banyak perdebatan sama Mas Tata. Sampe gak tidur, untuk mencapai visi produksi yang diinginkan sama dia,” ujar Ryan.

‎Ia menyebut hasil kerja keras tim akhirnya mendapat apresiasi dari berbagai pihak. “Sangat bersyukur dengan hasilnya, dengan produksi desain yang bisa dibilang disukai oleh orang-orang,” katanya

‎Ryan menambahkan, dukungan penuh dari tim produksi menjadi kunci dalam mewujudkan desain visual yang kompleks. Kolaborasi yang kuat dinilai mampu menyatukan berbagai ide menjadi satu kesatuan film yang utuh.

Sutradara Sidharta Tata menjelaskan bahwa pemilihan lokasi gang sempit bukan tanpa alasan. Ia ingin menghadirkan representasi nyata kehidupan masyarakat Indonesia melalui ruang yang terasa dekat bagi penonton.

‎“Film ini itu adalah wajah dari representasi Indonesia hari ini. Dengan segala macam kritik sosial yang mau saya bangun ada di sini,” ujar Tata.

‎Tata juga mengakui bahwa penggarapan adegan aksi di ruang terbatas menjadi tantangan besar selama produksi. Persiapan panjang dilakukan untuk memastikan koreografi dan keamanan tetap terjaga dengan baik.

‎“Jadi intinya bikin action itu susah banget, sumpah rumit, tapi ya karena kami memang senang, kami cinta, maka menikmati. Serumit apapun situasinya itu sudah jadi konsekuensi bagi kami para pembuat film,” katanya.

‎Pendekatan tersebut diharapkan membuat cerita lebih relevan dan mudah dipahami oleh penonton. Ia berharap film ini menjadi langkah awal lahirnya karya aksi Indonesia yang lebih berani dan berkembang. [Red]



0/Comments = 0 Text / Comments not = 0 Text

Lebih baru Lebih lama
YofaMedia - Your Favourite Media
Ads2