Joko Anwar bertindak sebagai sutradara sekaligus penulis dalam film ini. Ceritanya mengisahkan tentang sebuah penjara yang dipenuhi dengan korupsi dan ketidakadilan. Diawali dengan Geng Anggoro (Abimana) dan Bimo (Moegan Oey) sebagai dua kubu yang saling bertentangan di dalam penjara.
Namun semua berubah ketika beberapa narapidana baru masuk. Salah satunya adalah Dimas yang diperankan oleh Endy Arfian. Sosok makhluk misterius mulai menghantui penjara tersebut dan membunuh beberapa narapidana tanpa pandang bulu. Dua geng tersebut akhirnya memutuskan untuk “berdamai” dan mencari tahu penyebabnya.
Mengingat ceritanya berlatarkan penjara, maka jangan heran jika deretan cast penuh testoteron (alias hampir semua aktor laki-laki) menghiasi keseluruhan film. Nama-nama besar lainnya yang main di film ini seperti Aming, Lukman Sardi, Tora Sudiro, Dimas Danang, hingga Bront Palarae.
Sebagai salah satu film Indonesia yang paling ditunggu tahun ini, GITC merupakan karya teranyar sutradara yang akrab dipanggil Jokan ini setelah Pengepungan di Bukti Duri (2025) lalu. Ga cuma horor komedi, tapi Jokan menghadirkan elemen aksi dan sindiran satir pada film ini.
Meski Jokan sering diidentikkan dengan film horor, namun elemen komedi dan aksi lebih menonjol dalam film ini. Adegan-adegan perkelahian dibawakan dengan brutal dan sadis. Semakin kuat berkat metode-metode pembunuhan yang bikin pilu dari entitas misterius tersebut.
Yang menarik adalah sebuah sekuens perkelahian namun dibuat secara komedi, lalu dibanting lagi ke arah aksi yang penuh drama. Penonton bisa melihat bagaimana Abimana dan Morgan membawakan adegan yang cukup menantang tersebut.
Keseluruhan film terjadi di sebuah penjara. Semua set film dibangun dan dipermak dari set sekolah dari film Bukit Duri. Sinematografinya pun menawan, termasuk beberapa adegan yang diambil secara one take.
Jokan mengungkapkan bahwa film ini dibuat untuk merefleksikan kondisi Indonesia saat ini. Penggambaran penjara digunakan mengingat latar ini menjadi miniatur kehidupan bernegara. Ada system yang mengikat, susunan pemerintahan dari kepala lapas dan petugas, serta para napi sebagai rakyatnya.
Terkurung di penjara memberikan rasa stress tersendiri. Ketika para napi tak memiliki sosok pemimpin yang bisa diandalkan. Namun mereka tak bisa kabur aja dulu sebagaimana yang digaungkan elemen masyarakat beberapa waktu terakhir.
Keunikan dari GITC adalah simbol-simbol kematian yang dialami oleh para narapidana. Termasuk empat digit nomor yang ada di baju mereka. Bagi penonton yang suka dengan cocoklogi simbolis dari film-film Jokan juga bisa mengupas apa saja simbol-simbol yang ditemukan dalam film ini.
Film Ghost in the Cell sudah lebih dulu mendapatkan premier perdananya dalam ajang Berlin International Film Festival pada bulan Februari lalu. Penonton Indonesia bisa menikmati film ini melalui rilisan bioskop mulai tanggal 16 April 2026. [Red]


Posting Komentar