Yofamedia.com, Jakarta - Menjelang peringatan Hari Musik Nasional, pelaku industri musik dari berbagai generasi berkumpul dalam forum diskusi bertajuk “Beda Masa Satu Rasa” di CC Cafe at Nancy’s Place, Jakarta, Kamis (5/3). Forum ini menjadi ruang bertemunya musisi, produser, dan pegiat industri kreatif untuk membahas perkembangan sekaligus tantangan ekosistem musik Indonesia di tengah perubahan zaman.
Acara tersebut menghadirkan Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha sebagai keynote speaker, didampingi musisi sekaligus produser Harry Koko Santoso. Keduanya berbagi pandangan mengenai lanskap industri musik nasional yang terus bergerak dari era analog menuju era digital.
Kegiatan ini digagas oleh komunitas Cita Svara Indonesia (CSI), sebuah inisiatif yang dibentuk untuk memperkuat kolaborasi antarinsan musik serta menjaga kesinambungan nilai, identitas, dan karakter musik nasional.
Tema “Beda Masa Satu Rasa” dipilih untuk menggambarkan pertemuan pandangan dari para pelaku musik lintas zaman, mulai dari generasi yang tumbuh di tengah industri musik konvensional hingga generasi baru yang dekat dengan platform streaming dan media sosial.
Sejumlah nama dari industri musik turut hadir dalam forum tersebut, antara lain Connie Constantia, Tony TSA, Oleg Sanchabakhtiar, Gideon Momongan, Firdaus Fadlil, Jimmy Turangan, Liza Maria, dan Erby Dwitoro. Kehadiran komposer sekaligus konduktor Addie MS turut memperkaya pembahasan mengenai perkembangan musik Indonesia.
Diskusi dipandu oleh Lodewyk Ticoalu sebagai moderator. Suasana forum juga semakin hidup lewat penampilan musik dari Connie Constantia yang memberi nuansa artistik dalam acara tersebut.
Dalam pemaparannya, Giring menilai perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam industri musik. Ia menegaskan, musisi saat ini tidak cukup hanya fokus menciptakan karya, tetapi juga harus memahami cara kerja industri secara menyeluruh. “Sekarang musik tidak hanya bicara soal siapa penciptanya atau siapa penyanyinya. Seorang artis atau band harus memahami banyak hal, mulai dari bisnis musik, storytelling karya, hingga memaksimalkan media sosial,” ujar Giring.
Ia juga melihat peran musisi masa kini menjadi semakin luas. Menurutnya, seorang musisi kini dituntut mampu membangun identitas dirinya layaknya sebuah merek. “Musisi juga harus bisa mengelola brand-nya sendiri, mempromosikan karya, bahkan sampai menjual merchandise,” katanya.
Selain itu, Giring menyoroti meningkatnya popularitas musik berbahasa daerah di berbagai platform digital. Ia menilai fenomena tersebut menunjukkan bahwa keberagaman musik Indonesia menyimpan peluang besar untuk menembus pasar internasional. “Justru di era sekarang musik berbahasa daerah memiliki peminat yang sangat besar. Banyak karya dari berbagai daerah yang jumlah penontonnya mencapai puluhan bahkan ratusan juta,” ujar Giring.
Menurut dia, capaian itu menjadi penanda bahwa kekayaan budaya Indonesia merupakan kekuatan penting yang dapat menjadi modal besar dalam industri musik global.
Dalam forum yang sama, Giring juga menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor untuk membangun ekosistem musik nasional yang sehat dan berkelanjutan. Ia menyebut dukungan dari sektor ekonomi kreatif, penguatan regulasi hak kekayaan intelektual, hingga sektor pariwisata diperlukan agar industri musik berkembang lebih optimal. “Kami di kementerian ingin terus mendengar masukan dari komunitas musik. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku industri sangat penting untuk membangun ekosistem musik yang sehat,” ujarnya.
Forum ini sekaligus menjadi ajang perkenalan Cita Svara Indonesia kepada publik dan media. Organisasi tersebut didirikan oleh Harry Koko Santoso, Peter F. Momor, dan Connie Constantia, yang dikenal sebagai pelaku musik aktif sejak era 1980-an hingga 1990-an.
CSI hadir sebagai wadah sinergi bagi para pelaku industri musik dalam mendukung pengembangan potensi musik Indonesia, baik sebagai kekuatan budaya maupun sebagai bagian dari industri kreatif. Selain mendorong kolaborasi antarmusisi, komunitas ini juga membawa misi memperkuat posisi musik nasional dalam konteks kedaulatan budaya dan ekonomi Indonesia.
Forum “Beda Masa Satu Rasa” digelar menjelang Hari Musik Nasional yang diperingati setiap 9 Maret. Peringatan itu ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2013 oleh Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono.
Hari Musik Nasional menjadi momentum untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap musik Indonesia sekaligus memotivasi insan musik agar terus berkarya dan berprestasi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Memasuki 2026, peringatan tersebut telah berlangsung lebih dari satu dekade dan tetap menjadi titik penting dalam penguatan ekosistem musik Tanah Air.
Melalui forum ini, para pelaku industri berharap dialog lintas generasi yang terbangun tidak berhenti sebagai ruang diskusi semata, tetapi juga melahirkan gagasan baru yang mampu mempererat solidaritas antarmusisi serta mendorong musik Indonesia semakin kuat bergaung di panggung dunia. [Lia]

Posting Komentar