Yofamedia.com, Jakarta - Antusias masyarakat terhadap film Alas Roban terus menguat sejak hari-hari awal penayangan. Tren pembicaraan di media sosial, ramainya penonton di sejumlah jaringan bioskop, hingga respons positif dari publik menjadi sinyal bahwa film ini sedang mendapat perhatian luas.
Di tengah geliat tersebut, muncul wacana dari pihak rumah produksi untuk berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Batang dalam rencana pembuatan monumen Alas Roban sebagai ikon daerah.
Wacana ini berkembang seiring meningkatnya minat publik terhadap nama “Alas Roban” yang sudah lama dikenal sebagai bagian dari memori kolektif masyarakat. Kini, lewat film, istilah itu kembali hidup dan memantik rasa ingin tahu lebih besar bukan hanya soal cerita horornya, tetapi juga konteks lokal yang melekat pada nama tersebut.
Dari sisi capaian, Alas Roban mencatat perkembangan penonton yang terus bertambah dalam beberapa hari penayangan awal. Jumlah penonton yang terus meningkat dari hari ke hari, dengan sejumlah jadwal pemutaran di beberapa lokasi sempat ramai dan menjadi incaran penonton. Peningkatan ini turut memperkuat optimisme bahwa film Indonesia memasuki awal tahun dengan atmosfer yang lebih bergairah.
Secara cerita, Alas Roban mengangkat kisah horor-drama berlatar misteri yang menautkan mitos setempat dengan konflik para tokohnya. Cerita bergerak dari rangkaian kejadian ganjil yang muncul setelah sebuah perjalanan mendorong karakter utama menghadapi ketakutan, rahasia masa lalu, serta teror yang perlahan menyingkap sisi gelap dari tempat yang mereka datangi.
Unsur horor dibangun lewat atmosfer mencekam, sementara dramanya menajam lewat relasi antartokoh dan konsekuensi yang mereka tanggung.
Di tengah sambutan penonton tersebut, wacana monumen dinilai sebagai langkah lanjutan yang dapat menjembatani industri kreatif dengan identitas daerah. Jika direalisasikan, monumen tidak hanya berfungsi sebagai penanda visual, tetapi juga bisa menjadi ruang publik yang menguatkan narasi lokal, membuka peluang wisata tematik, serta menggerakkan ekonomi kreatif dan UMKM di Batang.
Pembahasan mengenai monumen masih berada pada tahap wacana. Namun, besarnya perhatian publik terhadap Alas Roban membuat gagasan ini mendapat ruang untuk terus berkembang sebagai bentuk lanjutan dari efek film yang tidak berhenti di bioskop, tetapi merembet ke ekosistem budaya dan pariwisata daerah. [Lia]

Posting Komentar