Yofamedia.com, Jakarta - Film horor terbaru "Juminten Edan" menghadirkan kisah teror yang berangkat dari trauma masa lalu dan konflik keluarga. Film produksi Mercusuar Films bersama Digital Frame Production ini menggabungkan unsur horor, drama, dan psychological thriller dengan menempatkan perjalanan emosional karakter sebagai bagian utama cerita.
Film ini mengikuti perjalanan Juminten, seorang perempuan tunawicara yang kembali ke kampung halamannya setelah delapan tahun merantau. Ia pulang bersama suaminya, Manto, dan anak mereka, Saskia. Namun, kepulangan tersebut justru membuka kembali luka lama yang selama ini tersembunyi.
Sutradara sekaligus produser "Juminten Edan", Dedy Mercy, mengatakan film ini mengambil sudut pandang keluarga sebagai pusat cerita. Ia menyebut hubungan antaranggota keluarga menjadi salah satu aspek yang ingin ditampilkan agar cerita terasa dekat dengan kehidupan masyarakat.
"Kita melihat Juminten ini sebagai miniatur kisah keluarga di Indonesia. Bagaimana hubungan mertua-menantu, anak-ibu. Kami ingin mengambil kisah yang dekat dengan pemirsa," ujar Dedy Mercy saat jumpa pers di Epicentrum XXI, Kamis (16/7).
Menurut Dedy, unsur horor dalam film tersebut tidak hanya hadir melalui adegan menegangkan, tetapi juga melalui konflik dan perkembangan karakter yang mengalami tekanan akibat masa lalu yang belum terselesaikan.
Film ini disutradarai oleh Dedy Mercy bersama Jonathan Ozoh. Jonathan menjelaskan bahwa proses produksi dilakukan dengan persiapan panjang untuk membangun emosi dan atmosfer cerita.
"Kami melakukan reading dan workshop mendalam untuk setiap adegan. Kami mengolah visual agar tidak hanya memberikan ketegangan horor, tapi kedalaman emosi. Ini lebih tepat disebut Psychological Thriller daripada sekadar horor biasa," kata Jonathan.
Jonathan menambahkan bahwa pendekatan tersebut membuat "Juminten Edan" tidak hanya berfokus pada elemen ketakutan, tetapi juga bagaimana penonton dapat memahami kondisi psikologis dan konflik yang dialami karakter.
Selain sisi psikologis, film ini juga menghadirkan unsur aksi yang menjadi bagian dari perkembangan cerita. Dedy Mercy menjelaskan bahwa adegan aksi dalam film dirancang sebagai konsekuensi dari konflik yang dialami karakter utama.
"Itu sudah didesain dari awal. Action di sini adalah impact dari karakter. Perjuangan seorang ibu yang tidak punya pilihan lain selain melawan demi anaknya," tutur Dedy.
"Juminten Edan" turut melibatkan Anggia Novita sebagai Executive Producer Digital Frame Production dan Ferdi Ali sebagai Produser Kreatif. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 23 Juli 2026.
Melalui perpaduan horor dan drama psikologis, film ini mengajak penonton melihat bagaimana trauma masa lalu dapat memengaruhi hubungan keluarga serta keputusan seseorang ketika menghadapi tekanan dalam hidupnya. [Lia]

Posting Komentar