Film Romantik Problematik Geliatkan Kembali Perfilman di Kota Malang

Yofamedia.com, Malang - Film Romantik Problematik garapan BW Purbanegara menuai sambutan baik di mata pecinta dan pegiat film di Malang, Jawa Timur. Ratusan penonton tampak antusias menonton film garapan sineas Yogyakarta itu di Auditorium Kampus II Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) malam itu, Sabtu (17/9/2022).

Pemutaran film ini seolah menjadi pemuas dahaga para penikmat film di Malang yang sudah haus akan tontonan ‘bergizi’ usai 2 tahun hiatus akibat pandemi COVID-19. Lewat pemutaran film ini, Boskop Online bersama Siar Sinema dan Guyub Film Malang Raya sukses kembali meramaikan blantika perfilman di Malang Raya.

Tak hanya pemutaran film, juga dilakukan kegiatan diskusi bersama sutradara filmnya langsung, BW Purwanegara. Mereka asyik berbincang seputar keseruan di balik layar pembuatan film yang juga bisa diakses di bioskoponline.id tersebut.

Dalam diskusi tersebut juga turut hadir Bonifacius Soemarmo selaku VP Growth & Marketing of Digital Business Visinema dan produser film Damar Ardi. Spesialnya, dalam pembuatan film panjang bergenre drama romantik ini juga melibatkan perwakilan sineas Malang.

Film berdurasi 90 menit itu dibintangi dua pemeran utama yaitu Bisma Karisma, dulu dikenal sebagai personil Smash dan Lania Fira, aktris muda yang malang-melintang di dunia sinetron. Keduanya memerankan sepasang anak muda yang menjalin relasi asmara dengan permasalahannya masing-masing.

Sedikit spoiler, diceritakan dalam film itu, Ricky dan Alisha merupakan proses pendewasaan sepasang anak muda yang ingin keluar dari jebakan hubungan yang toksik (toxic relationship). Keduanya memiliki masa lalu yang suram sehingga cukup berpengaruh terhadap perilaku dan relasi asmara mereka sehari-hari.

Karakter Ricky dalam hal ini ditokohkan sebagai sosok yang overthinking hingga obsesif kompulsif. Sementara karakter Alisha digambarkan sebagai perempuan tomboi yang memiliki latar belakang keluarga yang kacau alias broken home.

Tapi jangan kira film ini menyajikan plot cerita cinta yang menye-menye, karena film ini justru menyajikan keruwetan dalam sebuah relasi asmara. Dalam film ini juga berhasil menggambarkan realita masyarakat yang masih memegang teguh asas judgmental dan masalah sosial yang lain.

Film ini bisa dikatakan berhasil keluar dari narasi film drama romantis populer pada umumnya. Dari film ini, menyiratkan nilai edukasi, bahwa menjalin hubungan asmara bahkan menuju fase pernikahan ternyata tidak semudah yang dikira.

”Saling keterbukaan adalah kuncinya. Bagaimana kemudian menjadi penting untuk membangun relasi yang terbuka dan setara,” begitu, kata sutradara BW Purwanegara diwawancara usai sesi diskusi bersama komunitas dan pegiat film.

Film Romantik Problematik ini memang lebih banyak menekankan pada dialog. Dimana keduanya saling bertukar pikiran dan keruwetan yang sama. Kalau kata Mas BW, keduanya menjadi representasi anak muda saat ini (Gen-Z) yang sedang memasuki fase krisis identitas atau pencarian jati diri.

”Ini kan yang saya angkat soal keinginan menikah ya, jadi ini masa-masa mereka merenung. Di film ini, kemudian menjadi penting agar dalam menjalin relasi itu harus saling terbuka, menyelesaikan masa lalunya dulu, agar nantinya tidak menjadi masalah di kemudian hari,” paparnya.

Intinya, film ini membuat penontonnya memahami perspektif baru tentang bagaimana masalah dalam sebuah relasi itu selalu ada, dan bagaimana sebuah hubungan itu perlu diperjuangkan oleh kedua belah pihak, untuk bisa melewati masalah.

Meski begitu, Sutradara Film Ziarah (2016) yang memenangi ASEAN International Film Festival itu tidak ingin film Romantik Problematik jadi acuan nilai utama. Karena menurut dia, anak muda sendiri yang tahu cara menyelesaikannya masalahnya sendiri.

”Kalau solusi di generasi saya ya pendekatannya seperti ini. Maka itu, seharusnya yang paling tepat dalam membicarakan problematika anak muda ya anak muda itu sendiri, bukan generasi yang lain. Jadi, kuharap film seperti ini juga dibuat anak muda sekarang,” ujarnya.

”Kalau citayam fashion week saja bisa ada, harusnya semangat itu juga harusnya bisa menular ke dunia film,” imbuh Alumnus Ilmu Filsafat UGM itu.

Di lain sisi, Damar Ardi Sebagai produser, ikut aktif memaparkan pengalamannya bekerjasama dengan BW Purbanegara yang mencoba keluar dari gaya signature film khasnya. Di film ini, BW Purwanegara kata dia berhasil mendobrak gaya film drama menye-menye pada umumnya.

”Bagi kami film ini sangat menarik dan relate banget sama anak muda sekarang. Banyak dialog-dialog yang menyentil masalah sosial di sekitar kita. Selain itu juga banyak nilai edukasi, agar kita tidak terjebak dalam hubungan yang toksik,” paparnya.

”Dalam membangun hubungan, tak semudah yang dipikirkan. Di sini perjuangan itu muncul. Meski ceritanya anak muda banget, tetapi ada pesan mendalam yang disampaikan lewat film ini,” imbuh dia.

Selama kegiatan berlangsung, antusias positif yang terbangun antara anggota komunitas. Teman-teman komunitas film aktif membangun komunikasi dengan narasumber yang hadir.

Bonifacius Soemarmo, selaku VP Growth & Marketing of Digital Business Visinema, pihaknya dalam jajaran Bioskop Online ikut senang bisa berkolaborasi dengan para komunitas ini, karena membuat mereka terlibat aktif dalam diskusi seputar film.

“Karena komunitas ini juga salah satu roots-nya perfilman, itu sebabnya juga Bioskop Online ingin lebih banyak melakukan kolaborasi dengan teman-teman komunitas,” kata dia.

Semangat membangkitkan kualitas perfilman di Indonesia ini juga datang dari Arfan Adhi Perdana, Ketua Komunitas Guyub Film Malang Raya. Arfan, yang juga ikut terlibat aktif membidani pemutaran film-film festival di Malang bersama Siar Sinema ini berharap dari sini bisa jadi momentum bangkitnya dunia perfilman, khususnya di Malang Raya.

Sebenarnya, menurut dosen perfilman di UMM ini, potensi sineas di Malang juga tak kalah seru dengan di Yogyakarta. Hanya saja memang dukungan dari pemerintah daerah belum proporsional. Animo dari pemutaran film Romantik Problematik menjadi bukti bahwa potensi industri perfilman di Malang sangat tinggi.

”Potensi tinggi banget, kualitas SDM ada, tinggal sokongan biaya dan fasilitas publik yang proper, saya kira akan sangat bagus buat perfilman Malang kedepannya,” ungkapnya.

Sebagai informasi, Bioskop Online adalah sebuah layanan TVOD (Transaction Video On Demand) yang menawarkan kurasi film dari berbagai produser film lokal. Film yang lolos kurasi bisa diakses langsung melalui situs www.bioskoponline.com, atau lewat aplikasi yang bisa diunduh melalui App Store atau Google Play Store.

Konten film yang ada disana terdiri dari banyak jenis genre dan film mulai film panjang, konten original dengan durasi mid-feature, dan special show. Untuk film Romantik Problematik sendiri tak hanya diputar secara online, tapi juga secara offline sebagai upaya menjaga denyut industri film lokal.

Selain di Malang, roadshow Bioskop Online yang berkolaborasi dengan rekan-rekan komunitas film di beberapa kota ini sudah terselenggara di Yogyakarta dan Semarang. Film Romantik Problematik ini sudah rilia sejak 23 Agustus 2022 lalu.

0/Comments = 0 Text / Comments not = 0 Text

Lebih baru Lebih lama
YofaMedia - Your Favourite Media
Ads2