STANDARD CHARTERED DORONG UPAYA BERSAMA TINGKATKAN KESADARAN DETEKSI DINI DAN PENCEGAHAN GANGGUAN PENGLIHATAN BAYI PREMATUR


"Pencegahan Kebutaan Kurangi Potensi Kerugian Suatu Negara senilai 200 Milliar Dollar AS per tahun Akibat Hilangnya Produktivitas."

Yofamedia.com, Jakarta, 27 Oktober 2017 – Sebagai rangkaian peringatan Hari Penglihatan Sedunia 2017, Standard Chartered Bank (“Bank”) bersama Helen Keller International (HKI) dan salah satu konsorsiumnya [ORBIS], dengan didukung oleh Kasoem Vision Care hari ini menggelar seminar kesehatan “Deteksi dan Pencegahan Gangguan Penglihatan pada Bayi Prematur”.

Acara yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini untuk mencegah gangguan penglihatan, khususnya yang terjadi pada bayi prematur, dihadiri oleh puluhan masyarakat dari komunitas dan blogger perempuan, pemerhati kesehatan anak, mitra LSM, serta media & penggiat media sosial.

Adapun narasumber yang turut hadir adalah Dody Rochadi, Country Head Corporate Affairs Standard Chartered Bank Indonesia, dan Prof. Dr. Rita Sita Sitorus, SpM(K), PhD, pakar kesehatan mata anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) sekaligus Guru Besar Departemen Ilmu Kesehatan Mata Universitas Indonesia.

Selain kegiatan edukasi, acara ini juga diisi dengan pemeriksaan mata gratis yang difasilitasi oleh Kasoem Vision Care.

Pada tahun 2010, Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berjudul Born Too Soon, The Global Action Report on Preterm Birth menempatkan Indonesia di urutan ke-5 sebagai negara dengan jumlah bayi prematur terbanyak di dunia.

Bayi prematur diketahui menjadi penyumbang terbesar angka kematian bayi serta cacat fisik.

Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 44 persen kematian bayi di dunia pada 2012 terjadi pada 28 hari pertama kehidupan (masa neonatal), dimana penyebab terbesarnya (37 persen) ialah kelahiran prematur.

Prematur menjadi penyebab kematian kedua tersering pada balita setelah pneumonia.
Bayi yang terlahir prematur (lahir dengan berat kurang dari 1500 gram atau usia kehamilan kurang dari 34 minggu beresiko mengalami gangguan mata Retinopati Prematuritas (ROP).

Penyakit ini diduga disebabkan oleh pertumbuhan tidak sempurna dari retina pembuluh darah yang dapat menyebabkan jaringan parut dan operasi pada retina.

Gangguan mata ROP dapat terjadi dalam skala ringan, dimana dapat menghilang secara spontan, namun pada kasus yang berat dapat mengakibatkan kebutaan.

Prof. Dr. Rita Sita Sitorus, SpM (K), PhD, menekankan pentingnya penanggulangan kebutaan pada bayi dan anak, karena bayi yang terlahir buta atau menjadi buta setelah tumbuh menjadi anak-anak memiliki waktu hidup dengan kebutaan yang lebih lama dibandingkan mereka yang menderita kebutaan pada usia dewasa.

“Walaupun angka kejadian kebutaan pada anak tidak setinggi dengan kebutaan pada orang dewasa seperti katarak, namun total beban emosional, sosial, ekonomi yang harus dibayar akibat kebutaan seorang anak terhadap keluarga, masyarakat maupun negara jauh lebih besar dibandingkan beban yang harus dibayar akibat kebutaan pada orang tua.”

Selain itu, bayi yang hidup selamat pun masih memiliki kemungkinan mengalami gangguan kognitif, penglihatan dan pendengaran.

Hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan orang tua, serta perhatian dan dukungan dari
dari para dokter, tenaga kesehatan, pemerintah, serta pihak terkait untuk menginformasikan bagaimana cara pencegahan ataupun bagaimana cara menghadapi / merawat bayi prematur.

Di Indonesia, angka kematian bayi prematur telah berkurang berkat ketersediaan inkubator pada fasilitas neonatal intensive care units (NICU) di rumah sakit.

Namun kasus ROP masih diperkirakan akan meningkat karena banyak bayi prematur tersebut yang bertumbuh menjadi anak-anak.

Data dari RSCM menunjukkan pada 2013, kurang dari 10% bayi lahir prematur di rumah sakit selain RSCM memperoleh pemeriksaan ROP.

“Walaupun standar dan pedoman tata laksana penanganan ROP sudah ada, sayangnya tidak banyak dipatuhi secara sistematis karena kurangnya pelatihan, kapasitas, dan ketidakmampuan untuk mengidentifikasi bayi beresiko dan merujuk untuk mendapatkan perawatan,” pungkas Dr. Rita.

Dody Rochadi, Country Head Corporate Affairs Standard Chartered Bank Indonesia menegaskan, “Kebutaan merupakan salah satu isu kunci di pangsa pasar Standard Chartered Bank dimana gangguan penglihatan dapat mengurangi kualitas hidup seseorang dan keterbatasan tersebut berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi jangka panjang.”

Menurut data dari the International Agency for the Prevention of Blindness (IAPB), biaya ekonomi akibat dari hilangnya produktivitas oleh karena kebutaan yang dapat dihindari diperkirakan mencapai 200 miliar Dollar AS
per tahun.

Tanpa tindakan nyata, biaya tersebut dapat melambung hingga 300 miliar Dolar AS per tahun pada 2020.Mencegah kebutaan menjadi salah satu upaya kesehatan paling efektif dengan biaya terjangkau.

Biaya yang dapat dihemat secara global dengan mencegah kebutaan sebesar 223 miliar Dolar AS selama jangka waktu 20 tahun.

Menurut data Fred Hollows Foundation kerjasama dengan PriceWaterhouseCoopers, setiap 1 Dolar AS yang diinvetasikan untuk mengentaskan kebutaan yang dapat dicegah, mendorong sekitar 4 Dolar AS keuntungan ekonomi.

“Melalui program Seeing is Believing (SIB) yang berfokus pada kampanye penyadaran terhadap pencegahan kebutaan yang dapat dihindari atau disembuhkan, Standard Chartered turut membantu menyadarkan masyarakat akan pentingnya deteksi dini untuk mencegah gangguan penglihatan yang dapat terjadi pada bayi prematur, seperti low vision, kelainan refraksi, hingga kebutaan.

Seminar kesehatan yang kami selenggarakan secara kolaboratif hari ini sekiranya dapat memberikan sumbangsih kecil dalam meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini dan pencegahan gangguan penglihatan pada bayi prematur,” lanjutnya.

Selain komitmen terhadap peningkatan edukasi kepada masyarakat, Bank juga mengalokasikan dana program SIB untuk mendukung kerjasama HKI dan RSCM untuk merintis sistem penanganan ROP di berbagai rumah sakit umum daerah (RSUD).

Saat ini perawatan untuk Retinopati Prematuritas baru tersedia di RSCM, sehingga program ini merupakan program pertama yang memperluas akses ke layanan ROP di tingkat RSUD di Jakarta.

Dana tersebut juga akan digunakan untuk pelatihan staf rumah sakit di RSCM dan RSUD.

Sebagai informasi, pada Mei 2017 yang lalu, Bank bersama dengan HKI telah menyerahkan satu buah kamera retina mobile, alat yang dipergunakan untuk memeriksa retina bayi lahir prematur, kepada RSCM untuk mengidentifikasi bayi prematur dengan dugaan Retinopati Prematur (ROP) dan merujuk pada pengobatan yang dibutuhkan.

Program SIB dilaksanakan di seluruh dunia, termasuk Indonesia, sejak 2003. Beberapa kegiatan yang telah dilakukan diantaranya pelaksanaan operasi katarak, pemeriksaan mata dan pemberian kacamata, peningkatan kapasitas bagi para tenaga kesehatan, diabetic retinopathy, serta pembuatan fasilitas pendukung pemeriksaan
mata di beberapa wilayah di Indonesia.

Sejak tahun lalu, Bank bermitra dengan HKI dan konsorsiumnya untuk periode 2015-2020 dengan fokus utama penyediaan pemeriksaan dini bagi anak-anak dengan gangguan penglihatan atau gangguan kesehatan mata yang dapat dihindari.

Beberapa hasil yang telah dicapai sejak tahun lalu diantaranya pembangunan pusat pemeriksaan mata khusus anak di Rumah Sakit Universitas Hasanuddin, Makassar, pertama kalinya ada di wilayah Indonesia Timur.

Selain itu juga, tercatat beberapa kegiatan seperti 25 orang anak menerima bantuan operasi mata, 346 anak dengan keterbatasan fisik memperoleh kacamata gratis, dan sekitar 1.539 anak dengan keterbatasan fisik juga telah menerima edukasi kesehatan mata dan beberapa kegiatan capacity building bagi para tenaga kesehatan mata.
[WHY].

Untuk informasi lebih lanjut, harap hubungi:

*Dody Rochadi, Country Head, Corporate AffairsIie Sri Rejeki, Sustainability Manager, Corporate Affairs STANDARD CHARTERED BANK, INDONESIA .
Email: CorporateAffairs_Indonesia@sc.com

0/Comments = 0 Text / Comments not = 0 Text

Lebih baru Lebih lama
YofaMedia - Your Favourite Media
Ads2